Kamis, 05 Februari 2015

Menghidupkan Visi Papua Tanah Damai (Menyambut Hari Papua Tanah Damai)

Penulis : Ridwan al-Makassary*)


  TANGGAL  5 Februari 2015, kita kembali disapa oleh hari Papua Tanah Damai atau Hari Pekabaran Injil di Tanah Papua. Namu, Papua, pulau Cenderawasih, sejak bergabung ke dalam pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan referendum tahun 1969, terus dihantui ancaman konflik vertikal yang laten antara para pejuang Papua merdeka (OPM) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Dalam teori konflik, Papua mengalami konflik sosial yang berlarut-larut (proctracted social conflict). Selain itu, ancaman laten konflik bernuansa etnik-agama (communal conflict),yang akar tungganya adalah persoalan ketidakadilan dan marjinalisasi.
   Sejauh ini preferensi menggunakan pendekatan keamanan yang eksesif di Papua hanya menyelesaikan kompleksitas masalah secara parsial dan bahkan kerap menyuburkan dendam dan kemarahan yang menumpuk  bagi keluarga korban. Pendekatan agama, budaya (termasuk adat)—pendekatan dalam istilah Velix V. Wanggai, mantan staf khusus Presiden RI bidang Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah, “Menata Papua Dengan hati--kerap lebih berhasil dalam penciptaan “Papua Tanah Damai” namun belum dimaksimalkan oleh pihak pemerintah Indonesia, termasuk pada masa pemerintahan Joko Widodo. Kasus Paniai berdarah beberapa waktu lalu adalah bukti bahwa komitmen non-kekerasan masih tanda tanya.
   Proyek “Papua Tanah Damai”, sejatinya, dideklarasikan tahun 2002 oleh para pimpinan agama sePapua sebagai respons atas pengabaian hak-hak sipil dan politik (civil and political rights/CPR) serta hak-hak ekonomi, sosial dan budaya (economic, cultural and social rights/ESCR), pendekatan keamanan yang eksesif, kesenjangan kesejahteraan di Papua dan fenomena penghancuran rumah ibadah di luar Papua. Singkatnya permasalahan tersebut yang menjadi raison d’etre proyek Papua Tanah Damai”.     
  Forum Komunikasi Para Pimpinan Agama (FKPPA) dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). sebagai deklarator dan membidani gagasan “Papua Tanah Damai” di antaranya telah melakukan beberapa kegiatan untuk terwujudnya perdamaian di antaranya dengan menetapkan tanggal 5 Februari sebagai Hari Damai di Papua dan 21 September sebagai Hari Damai Sedunia, beberapa kali seminar, dan studi banding ke Mindanau, dll. 
   Pdt. Hermann Saud, M.Th, Ketua FKPPA/FKUB Provinsi Papua, pada seminar tentang “Papua Tanah Damai” tanggal 4 Februari 2013, yang bertempat di kantor Gubernur Jayapura, menuturkan bahwa terdapat sejumlah tantangan kekinian dalam mewujudkan “Papua Tanah Damai” di antaranya suburnya sikap dogmatisme-skripturalisme keagamaan, tirani mayoritas dalam beragama, dan kooperasi yang rendah antara komunitas agama di bidang keduniaan, misalnya kesehatan, pendidikan dan ekonomi.
   Konflik vertikal adalah hal yang mesti dicari solusinya. Salah satunya dengan dialog. Bentuk dan kontennya mesti menyiratkan keinginan untuk menyatukan bukan semata-mata untuk memisahkan. Sementara itu, benih-benih konflik antara komunitas Muslim dan Kristen telah tumbuh sedemikian rupa. Hal tersebut ditandai dengan terpatrinya kecurigaan (suspicion) dan prasangka (prejudice) sebagian komunitas Kristen terhadap perkembangan Islam (Islamisasi) yang masif.  Sebaliknya komunitas Muslim juga mencurigai penguatan Kristenisasi seperti adanya gejala tuntutan pemberlakuan perda Injil di Manokwari, Papua Barat, beberapa waktu lampau. Di kota Jayapura, Papua, misalnya, terjadi penolakan sebagian warga Kristen terhadap menjamurnya bank-bank Syariat, bank Muamalat, Pusat Studi Islam dan rencana pembangunan masjid/musalla di Universitas Cenderawasih. Fenomena itu adalah akibat nyata kecurigaan dan prasangka tersebut. Bahkan, eksklusifisme keagamaan telah menggerakkan pendulum sejarah kerukunan antar agama yang terjalin baik di Pulau Papua ke titik ekstrem: Konflik antar iman.  Tahun 2007,  misalnya,  telah terjadi konflik skala kecil antara Muslim dan Kristen di Manokwari dan Kaimana, Provinsi Papua Barat. Konflik yang hingga hari ini masih menyisakan mimpi buruk (night mare) bagi warga di sana.
   International Crises Group (ICG), dalam laporannya Indonesia: Communal Tensions in Papua, Asia Report N°154 – 16 June 2008, menyebutkan beberapa faktor kunci yang menyebabkan konflik di Papua adalah migrasi kelompok-kelompok Muslim ke berbagai wilayah di tanah air; kemunculan kelompok-kelompok eksklusif baru di dalam dua komunitas (Islam dan Kristen) yang memandang satu sama lain sebagai musuh; akibat sisa-sisa ekslusifitas lama dari konflik Maluku, dan akibat dari pembangunan yang ekstensif di luar Papua.
  Pihak Islam moderat, seperti Nahdhatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, menyadari betul signifikansi pembangunan moderatisme di antara komunitas agama-etnik dan adat yang berbeda terutama untuk mencegah penyebaran ajaran agama radikal yang dapat berujung pada konflik kekerasan. Memang, yang pernah terjadi sejauh ini  hanyalah konfrontasi ringan dan benih-benih kecurigaan antara komunitas agama dan etnis, seperti dipaparkan di atas. Meskipun demikian, ketika bangunan eksklusifitas semakin kuat dan hadirnya faktor pemicu, maka konflik kekerasan  yang melibatkan komunitas-komunitas agama, etnis dan adat sewaktu-waktu dapat terjadi.
   Secara teoritik, dalam upaya memperkuat proses pembangunan perdamaian, agama adalah salah satu faktor kunci yang dapat dipertimbangkan sangat penting selain ekonomi dan politik. Ketiga faktor tersebut kerap berkelindan dalam terjadinya konflik kekerasan. Apa yang disebut sebagai “ambivalence of the sacred” terdapat di semua tradisi agama besar (Abrahamic Religion), di mana ia tidak hanya berfungsi sebagai sumber perdamaian, melainkan juga dapat menjustifikasi konflik dan perang  (See Oliver Ramsbothan (et all), Contemporary Conflict Resolution, h. 31)
   Sementara itu, adat merupakan sebuah penanda penting dari eksistensi sebuah kelompok etnik dan budaya. Karenanya, adat mesti dilindungi sebab ia di antaranya dapat berfungsi untuk menyaring elemen-elemen budaya luar yang hadir untuk merusak dan menggerus budaya yang eksis.  Misalnya, radikalisme agama dapat mengancam eksistesi budaya yang eksis, dan juga praktik komunalitas eksklusif kerap ditolak oleh komunitas adat sebagai sesuatu yang asing. Di Papua terdapat 250 kelompok etnik, dialek, budaya,  dan wilayah adat. Orang asli (theindigenous people) terdiri dari ribuan marga  dengan stratifikasi dan strata sosial mereka (La Pona, Penduduk, “Otonomi Khusus dan Fenomena Konflik di Tanah Papua”, Jurnal Kependudukan Indonesia, 2008).
  Dalam nada yang sama, Velix V. Wanggai (2012, h. 294) dalam Pembangunan untuk Semua Mengelola Pembangunan Regional ala SBY, menuturkan bahwa “Adat telah mempersatukan manusia Papua yang berbeda keyakinan keagamaan dalam ikatan toleransi dan rasa hormat yang tinggi. Ikatan sosial dalam satu marga (fam), satu klan (keref) satu suku atau bahkan sama sekali tak memiliki hubungan darah maupun suku terasa sangat kuat satu sama lainnya”. Poinnya adalah adat sangat penting dalam proyek “Papua Tanah Damai”.
   Karenanya, memimpikan terwujudnya “Papua Tanah Damai” mesti memperhitungkan dan melibatkan partisipasi aktif agamawan, pemimpin etnik, pemuka adat yang memiliki otoritasi religi, etnik dan adat yang dalam terminology Weber disebut sebagai “charisma”. Pemimpin etnik/adat ini penting dilibatkan sebagai penggerak perdamiaan (peace drivers) oleh karena di Papua, terutama di wilayah pegunungan, eksistensi mereka sangat kuat. Sebagai prototype masyarakat patron-client, mereka ini memanggul tanggung jawab atas segala hajat hidup-mati anggota sukunya, namun saat yang sama ia menagih loyalitas total dari anggotanya. Ini yang menjelaskan kenapa penggunaan sistem noken dalam pilgub Papua yang baru saja digelar memperoleh legitimasinya. 
   Sebagai kesimpulan, visi Papua Tanah Damai meniscayakan pengarusutamaan cara berteologi yang moderat, inklusif, rasional di kalangan para pimpinan agama, etnik dan adat di Papua. Misalnya, pembumian teologi damai di kalangan Kristen seperti teologi pembebasan (liberation theology) di Amerika Latin, teologi hitam (black theology) di Afrika Selatan dan teologi Minjung di Korea. Poinnya adalah teologi yang menganjurkan damai, kerja sama dan melawan prinsip-prinsip korup, zalim, absolutisme kekuasaan. Islam, misalnya, bisa mengembangangkan teologi inklusif dan Islam akomodatif terhadap budaya-budaya lokal di Papua.  Sejauh ini pihak Kristen di Papua menggerakkan teologi damai sesuatu yang dibutuhkan dalam pembangunan perdamaian yang sinambung. Jika ini bisa dimaksimalkan, maka visi Papua Tanah Damai bukanlah sesuatu yang utopis. ***

*)Penulis adalah Dosen Jurusan Hubungan Internasional USTJ Jayapura, yang sedang mengikuti training perdamaian internasional di Rotary Peace Center Universitas Chulalongkorn, Thailand.

( Tulisan ini pernah dimuat di harian Cenderawasih Pos 2015)



Memaknai Kembali Visi Papua Tanah Damai

(Menyambut hari Papua Tanah Damai, 5 Februari 2016)
Oleh: Ridwan al-Makassary
TAHUN 2015 yang baru kita lewati adalah tahun yang suram dan menyedihkan bagi citra kerukunan  agama di Tanah Papua. Masih tertanam kuat di rerimbun ingatan akan kasus Insiden Tolikara 17 Juli 2015, yang cukup menghancurleburkan persepsi orang tentang kerukunan yang telah terjalin kokoh selama 200-an tahun antara penganut Kristen dan Muslim di Tanah yang diberkati ini. Tidak sampai di situ, kasus penolakan pembangunan Masjid Rahmatan Lil Alamin di Kota Manokwari oleh komunitas Kristen, yang hampir berujung bentrok menambah bopeng wajah kerukunan beragama di Tanah Papua.   
 Lebih jauh, mungkin beritanya tidak seheboh insiden Tolikara yang mengglobal, yaitu menjelang hari Raya Natal, Maulid Nabi Muhammad SAW dan tahun baru 2016 di Kota Jayapura suasana tegang sempat tercipta oleh karena Ja’far Umar Thalib (JUT) dan santrinya yang berusia puluhan ditengarai berada di Koya Barat, Kota Jayapura, di Distrik Muara Tami. 
 Sempat terjadi insiden kecil antara pemuda pondok natal dengan pengikut Ja’far Umar Thalib karena masalah Towa (speaker) yang saling “berkompetisi” antara kidung pujian dan azan (panggilan) sholat. Sesuatu yang menurut saya, semestinya bisa dikomunikasikan secara kekeluargaan antara kedua belah pihak. Selain itu, saya tetap berpandangan bahwa Papua tetap menjadi contoh toleransi jenial di Indonesia, terbukti meraih peringkat ke-3 Harmony Award  tahun 2015 untuk Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) tingkat Provinsi di tanah air.
 Namun, masalah  JUT itu terlanjur menjadi isu publik (public issues), kalau meminjam istilah dari C. Wright Mills, oleh karena menerbitkan perasaan ketakutan dan keresahan yang kuat  menggayuti benak sebagian besar umat beragama, yang damba pada kerukunan yang telah terjalin baik. 
 Hal-hal yang merisaukan publik, terutama mengingat jejak rekam JUT di Kota Ambon dan Yogyakarta. Keterlibatan beliau memimpin Laskar Jihad di Ambon dan bagaimana sepak terjangnya  di sana, serta kisahnya di Yogyakarta 2 tahun lalu, yang pengikutnya melakukan demonstrasi yang cenderung anarkhis—berdasarkan cerita seorang pejuang Interfaith di Kota Gudeg itu, telah menakutkan para pimpinan umat beragama di Tanah Papua, khususnya di Kota Jayapura.
  Saya yang ketika itu menjadi moderator dalam Acara Semiloka FKUB Kota Jayapura di Hotel Sahid (pertengahan Desember 2015)  juga kaget bersama para peserta karena pak Walikota Jayapura, Dr, Drs, Benhur Tommy Mano, MM, pemimpin pluralis dari negeri matahari terbit, menyampaikan kepada kami bahwa ada berita kehadiran mantan pemimpin perang di Ambon yang sudah 2 bulan berada di Kota Jayapura dan sempat ada keributan antara pemuda pondok natal dengan pengikut JUT. Mengingat menjelang Natal dan Tahun Baru 2016, serta bayangan kelam Insiden Tolikara sempat membuat kanopi ketakutan di kalangan umat beragama.
 Saya dan tim (Ketua: Pak Syamsuddin, Thoha Al-Hamid, Dr. Toni Wanggai, ketua MUI Kota) untuk ke lapangan yang dibentuk Walikota dalam rapat Muspida di kantor Walikota telah meninjau lokasi dan melakukan rapat terbatas dengan stakeholder di Koya Barat dan juga menemui JUT di rumah kontrakannya. 
 Secara singkat, pertemuan kami dengan JUT dan timnya lebih bernuansa silaturahmi dan ingin mengetahui lebih jauh tujuannya jauh-jauh ke Jayapura. Ternyata dari penuturannya dia hendak membangun pesantren sejenis pesantrennya di Kota Yogyakarta dengan alas an moral Indonesia telah rusak dan akan diperbaiki lewat pesantrennya. Demikian alas an yang dia kemukakan. Tapi, menurut saya, berdasarkan data-data yang valid yang saya peroleh bisa jadi itu hanya alas an karena orang ini berbahaya yang telah menciptakan terror di kota Amboon dan Poso. 
 Berkat kesigapan aparat keamanan, Pemkot, FKUB dan kerjasama pemuda lintas iman  dalam menjaga gereja di malam natal, Jayapura bisa melalui tiga peristiwa penting yang disebut di atas secara damai. Perkembangan terakhir, JUT masih bergeming di Kota Jayapura untuk membangun pesantren, meskipun  dalam rapat Majelis Ulama Indonesia di Kota Jayapura, 27 Desember 2015, Ormas Islam menolak idenya untuk membangun pesantren dan bersikukuh tetap di Kota Jayapura sehingga ada surat “pengusiran” dari pemerintah kota. Saya berpandangan sebaikanya dengan penolakan dari Ormas Islam itu cukup menjadi bukti bahwa kehadirannya di Kota Jayapura meresahkan dan mestinya ada pilihan sadar untuk meninggalkan Kota Jayapura sesegera mungkin.
 Karenanya, menyambut hari Papua Tanah Damai  kita mesti mereflesikan kembali dua pristiwa penting tentang hari  Papua Tanah Damai tersebut. Pertama, peristiwa historik pada 5 Februari 2002, di mana para pimpinan agama yang tergabung dalam Forum Komunikasi Para Pimpinan Agama menyepakati deklarasi Papua Tanah Damai. 
 Raison d’tre  kelahiran visi Papua Tanah Damai sebagai respons atas pengabaian hak-hak sipil dan politik (civil and political rights/CPR) serta hak-hak ekonomi, sosial dan budaya (economic, cultural and social rights/ESCR), pendekatan keamanan yang eksesif, kesenjangan kesejahteraan di Papua dan fenomena penghancuran rumah ibadah di luar Papua. Selain itu, bagaimana mencegah terjadinya konflik bernunasa agama seperti terjadi di Ambon dan Poso. Cara memaknai dalam era kekinian adalah menjaga Papua Tanah Damai untuk tidak dicederai, di antaranya oleh orang seperti JUT.
  Sejauh ini, terdapat 4 tantangan dan ancaman kerukunan di Tanah Papua: Satu, primordialisme keagamaan yang berlebihan. Misalnya, kehadiran JUT masuk dalam kategori ini. Kedua, Primordialisme etnik berlebihan. Ketiga, Marjinalisasi orang asli Papua, di mana sejauh ini mereka belum merasakan manfaat dari pembangunan. Keempat, perubahan sosial akibat ledakan transmigran yang datang ke Papua.
 Secara khusus di Jayapura, FKUB kota Jayapura, FKUB Provinsi Papua dan Sub Divisi Hukum dan KUB Kanwil Kementrian Agama Papua menghidupkan kembali visi Papua Tanah Damai dengan mengadakan kegiatan-kegiatan kerukunan dan toleransi. 
 FKUB kota Jayapura bekerjasama dengan Kesbang Pol dan Linmas Kota Jayapura melaksanakan workshop “Mewujudkan Kota Jayapura sebagai Kota Toleransi di Tanah Papua”. Saya yang dipercaya memandu workshop membagi peserta yang jumlahnya 70 orang (pemimpin agama, paguyuban, skpd)  dibagi 3 kelompok dan mendiskusikan 3 poin: Satu, ancaman terhadap toleransi di Kota Jayapura; kedua, faktor positif pencegah intoleransi di Kota Jayapura; dan pernyataan sikap untuk mewujudkan kota Jayapura sebagai kota toleransi di Tanah Papua.
 Menurut saya, para peserta sangat antusias dan bahkan meminta waktu tambahan untuk berdiskusi. Beberapa poin penting adalah semua peserta yang hadir dalam diskusi menolak kehadiran Ja’far Umar Thalib dan meminta para Ondoafi jangan menjual tanahnya untuk pembangunan pesantren, karena pemahaman yang cenderung radikal dan jejak rekam yang menakutkan di Ambon. Poin lain, kegiatan positif semacam ini mesti sering dilakukan dengan audiens yang lebih luas sehingga kota Jayapura bisa menjadi kota toleransi di Tanah Papua.  
 Lebih jauh saya berpandangan bahwa dari segi sosiologis dan resolusi konflik, kehadiran Ja’far Umar Thalib sudah menjadi public issue, dan juga apa yang disuarakan oleh peserta dapat dilihat terbagunnya kesadaran umat beragama untuk mencegah konflik (conflict prevention), karena mereka khawatir terhadap paham radikal, suka mengkafir-kafirkan pihak di luar kelompok mereka dan jejak masa silam uztas Ja’far Umar Thalib dan pengikutnya yang membuat takut. 
 Pungkasannya, dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan kerukunan seperti tergambar di atas, Papua Tanah Damai adalah visi yang dapat menyatukan umat beragama untuk merengkuh perdamaian dan kerukunan di Papua, surga kecil yang jatuh ke bumi.***

Penulis: staf khusus FKUB Papua dan Dosen Jurusan Hubungan Internasional USTJ Papua.  
( artikel ini pernah dimuat di Harian Cenderawasih Pos Februari 2016)

Rabu, 04 Februari 2015

Melawan Lupa, Jelang HUT PI Ke 160 Di Tanah Papua

Oleh: Yan Christian Warinussy *)

   TANGGAL 5 Februari 2015 mendatang, Gereja Kristen Injili (GKI) Di Tanah Papua bersama seluruh umatnya dan segenap rakyat Papua beserta denominasi gereja-gereja akan merayakan ulang tahun ke 160, masuknya Injil di Tanah Papua. 
  Kabar sukacita itu telah di bawa masuk seiring dengan mendaratnya 2 (dua) orang Zendeling (Penginjil) asal Jerman, Carl Willem Ottow dan Johann Gottlob Geissler di pantai pasir putih di Pulau Mansinam, di depan bibir Teluk Doreh, yang kini dikenal dengan nama Teluk Doreri.
   Kala itu mereka berjumpa dengan wajah-wajah sangar dan tidak bersahabat dari penduduk Pulau tersebut yang bahasanyapun belum diketahui oleh Ottow dan Geissler, yang saat itu hanya ditemani seorang anak muda bernama Fritz (12) yang adalah anak dari guru di Ternate yang diserahkannya kepada kedua zendeling guna menjai pelayan mereka. 
  Kedua Zendeling tersebut sempat dipandang oleh orang asli Pulau Mansinam tersebut sebagai orang asing yang hendak datang untuk merampas kebebasan mereka,sehingga cepat atau lambat keduanya harus disingkirkan. 
  Perjalanan Ottow dan Geissler dari negeri Jerman ke Tanah Papua kala itu (1855) berlangsung dalam waktu 3 (tiga) tahun sebagaimana ditulis dalam buku : Fajar Merekah di Tanah Papua : Hidup dan Karya Rasuk Papua Johann Gottlob Geissler (1830-1870) dan warisannya untuk masa kini, yang disunting oleh Pdt.DR.Rainer Scheunemann, terbitana Panitia Jubelium Emas 150 Tahun Hari Pekabaran Injil di Tanah Papua, tahun 2004.
  Perjalanan panjang ke Tanah Papua dimulai dari Berlin-Jerman ke Belanda pada tahun 1852 yang menurut catatan Geissler, Tanah Papua (New Guinea) adalah tanah tujuan dan kerinduannya.Dari Berlin ke Belanda perjalanan mereka sebagian besar ditempuh dengan berjalan kaki untuk menghemat biaya.
  Pada tanggal 26 Juni 1852 malam hari, Ottow dan Geissler berangkat  dari Rotterdam, Belanda menuju Batavia (kini Jakarta) dengan menumpang kapal Abel Tasman. 
  Tanggal 7 Oktober 1852 mereka tiba di dengan selamat di Batavia dan kesabaran mereka diuji, karena mereka harus menunggu disana selama kurang lebih 2 (dua) tahun, yaitu tepatnya pada bulan April 1854 barulah ada kesempatan untuk mereka meninggalkan Batavia untuk menuju tanah kerinduan mereka, yaitu Papua.
  Kenapa mereka menuju Pulau Mansinam? Karena di Batavia ada seorang saudagar muda bernama Ring yang telah mendirikan sebuah perkumpulan misi, dan dia mendapat informasi, bahwa di Pulau kecil Mansinam dekat Manokwari hidup orang-orang yang terbuka. Menurut catatan bahwa waktu itu (1854), Tanah Papua tertutup dan penduduknya dianggap buas dan menolak orang asing.
  Perjalanan dari Batavia menuju ke Ternate, wilayah otoritas pemerintahan Kesultanan Tidora waktu itu, dimana Sultan Tidore sendiri  tidak keberatan apabila kedua rasul tersebut datang ke Mansinam. Hal itu ditandai dengan diberikannya surat jalan kepada kedua sendeling oleh Sultan Tidode yang oleh penduduk Pulau Mansinam diakui kekuasaannya di bawah Pemerintahan Belanda saat itu.
  Pelayaran dari Ternate dengan menumpang kapal Ternate pada bulan Januari 1855 itu akhirnya tiba di Pulau Mansinam pada tanggal 5 Februari 1855 tepat pukul 6 pagi bersamaan dengan fajar yang merekah di ufuk Timur Tanah Papua, jangkar kapal dibuang untuk berlabuh di Teluk Doreh.
  Keberadaan merka kemudian di Pulau Mansinam ketika itu, dimulai dengan tinggal sementara waktu di sebuah gubuk peninggalan pelaut di tepi pantai pulau tersebut dan mereka berupaya dapat mencapai pantai Mnukwar (kini Manokwari) dengan mulai membuat perahu.
  Ketika mereka berhasil membuat sebuah perahu yang dapat mengantar mereka berdayung hingga tiba di bibir pantai Manukwar, mereka mendapati seluruh pantai dipenuhi hutan rimba. Sehingga merka beberapa hari harus bekerja menebangi pohon-pohon dan pada malam harinya mereka mendayung kembali ke Mansinam.
  Akibat keras bekerja itu, maka mereka bertiga (ootow, Geissler dan Fritz) sempat jatuh sakit secara beruntun, walau akhirnya mereka bisa pulih setelah diserang penyakit malaria waktu itu. Akan tetapi semangat mereka untuk membuka tabir peradaban hidup Orang Papua yang dipandang primitif, sangar, buas dan tidak bersahabat telah mendorong mereka untuk terus kuat bertahan dan bekerja selama mungkin.
  Hasilnya untuk kepentingan komunikasi, maka mereka mempelajari bahasa lokal penduduk Mansinam, yaitu Bahasa Numfor (Mafoor), dan mereka juga berhasil menyusun sebuah kamus berisi 1500 kata dalam bahasa Numfor yang diserahkannya kepada komisi ilmu pengetahuan Belanda yang diutus ke Mansinam pada tahun 1858.
  Dengan modal memahami bahasa Numfor inilah dengan ditambah pemahaman atas bahasa Melayu, maka proses penginjilan dapat berjalan dengan semakin baik di Pulau Mansinam dan Manokwari, sebagai tempat pertama Injil Kristus mulai ditanamkan oleh kedua Rasul tersebut. 
   Hal itu terbukti nyata, ketika mereka berdua dapat mengajarkan Doa Bapa Kami dalam bahasa Numfor yang menjadi alat ampuh untuk semakin mendekatkan pemahaman dan hubungan mereka dalam konteks penginjilan dengan orang-orang asli di Pulau Mansinam pada masa tersebut.
  Tantangan dalam penginjilan juga dihadapi bukan saja dari penduduk asli PUlau Mansinam saja, tetapi juga dari para bajak laut yang seringkali datang ke Pulau tersebut dengan tujuan merampok dan membunuh. 
  Ottow dan Geissler seringkali terlibat dalam upaya mereka membela penduduk pulau Mansinam dengan mengejar dan berupaya membebaskan para tawanan bajak laut tersebut. 
  Pembebasan itu tidak dicapai dengan cara-cara mudah, karena kedua zendeling juga harus terlibat pertarungan fisik yang sengit dan melelahkan dengan para bajak laut tersebut. Ini menjadi bukti betapa tantangan yang dihdapi para zendeling tersebut tidak mudah dan sangat berat saat itu.
   Pada tanggal 9 November 1862, Ottow meninggal dunia di Manokwari dan dimakamkan dimakamkan, hingga kuburnya masih ada saat ini di Kwawi, Manokwari. Kemudian Geissler wafat pada tanggal 11 Juni 1870 di Siegen, Jerman.
   Meskipun kedua zendeling tersebut sudah wafat,  tetapi buah dari pekerjaan mereka yang pertama kali mendaratkan Injil di Pulau Mansinam, Tanah Doreri tersebut hingga saat ini telah berbuah dan bertambah banyak memenuhi seluruh persada Tanah Papua. Sehingga senantiasa diperingati oleh kalangan Gereja Kristen maupun dengan dukungan pemerintah daerah ini sebagai suatu waktu dimana peradaban orang-orang asli Papua telah dirubah dari sebutan dahulu sebagai bangsa biadab menjadi bangsa yang beradab dan memiliki martabat dan hak asasi yang sama dengan seluruh penduduk bumi ini.***

*Penulis adalah Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari - Sekretaris Komisi HAM, Perdamaian, Keadilan dan Keutuhan Ciptaan pada Badan Pekerja Klasis GKI Manokwari - Peraih Penghargaan Internasional di Bidang HAM "John Humphrey Freedom Award" Tahun 2005 dari Canada - Anggota Steering Commitee Foker LSM se-Tanah Papua - Salah satu Pembela HAM (Human Right Defender/HRD) di Tanah Papua. 

( Tulisan ini pernah dimuat di Harian Cenderawasih Pos - Februari 2015)

Senin, 02 Februari 2015

Imsi dan Manggo Membuka Pintu Bagi Injil di Lembah Grime dan Nawa

(Sebuah Refleksi Pada Perayaan HUT Pekabaran Injil Ke 160 Di Tanah Papua)

Oleh : John Lensru *)

  BESOK tanggal 5 Pebruari 2015, kita, khususnya warga Kristiani di Tanah Papua akan merayakan Hari Ulang Tahun Pekabaran Injil yang ke 160 tahun di Tanah Papua. Sudah pasti, para Pendeta, Vikaris, Penginjil, Guru Jemaat dan Penatua yang memimpin ibadah HUT PI akan menyebut nama Ottow dan Geissler sebagai Rasul orang Papua. Bahkan sikap masyarakat Numfor (penduduk pribumi) di pulau Mansinam terhadap kedua insan tersebut, baik positif maupun negatif akan diuraikan secara panjang lebar. Semuanya itu dilakukan, dengan satu tujuan yaitu : untuk mengajak kita melihat dan/atau merenungkan bagaimana Kuasa Roh Allah menggerakan, baik hamba-hamba-Nya dari Eropa, maupun anak-anak-Nya di Tanah Papua, untuk berusaha menanamkan benih Injil di Tanah Papua yang dimulai dari pulau Mansinam.
   Tak ada salahnya, pada moment HUT PI ke 160 ini juga kita menceriterakan dan/atau merenungkan hal yang sama yang terjadi di kampung/ daerah kita masing-masing, khususnya tentang bagaimana Roh Allah menggerakan nenek-moyang/leluhur kita bersama hamba-hamba-Nya, untuk memberitakan dan/atau menanamkan benih Injil di kampung/ daerah kita masing-masing. Berikut ini, penulis akan menyampaikan sekilas tentang bagaimana penduduk pribumi Papua dari Lembah Grime dan Nawa berusaha merebut benih Injil untuk ditanam di daerahnya, di bawah judul “Imsi Dan Manggo Membuka Pintu Bagi Injil Di Lembah Grime Dan Nawa”    
   Imsi Dan Manggo, adalah nama kedua tokoh adat dari Lembah Grime, khususnya dari kampung Imeno, Distrik Nimboran, Kabupaten Jayapura. Nama lengkapnya, adalah Imsi-dikie dari keret Dekeniap dan Manggo-dewem-temang dari keret Maimbu/Giay. Setelah Injil masuk di Nimboran, khususnya di kampung Imeno yang ditandai dengan pembaptisan pada tanggal 16 Pebruari 1936, maka pada saat itu Manggo-dewem-temang dibaptis dengan nama : Abraham, sehingga lengkapnya dipanggil : Manggo Abraham Giay. Sedangkan rekannya Imsie-dikie tidak dibaptis, sehingga dia tetap dipanggil dengan nama adat Imsie-dikie Dekeniap.
   Ketika pengaruh modernisasi mulai masuk di wilayah lembah Grime dan Nawa pada awal abad ke 20, tepatnya pada tahun 1900-an, yang diawali dengan kegiatan para pemburu burung kuning/Cenderawasih, maka Imsi, Manggo serta Nenu dan teman-teman pemuda Genyem lainnya mulai tampil dan memainkan peran sebagai katalisator modernisasi yang tangguh pada saat itu, karena terlibat langsung dalam aktivitas perburuan burung Cenderawasih dan berbagai aktivitas modernisasi lainnya, termasuk kegiatan dari Team Expedisi Wichmann & Lorenzt pada tahun 1903. 
    Sedari tahun 1900 hingga tahun 1918 atau selama kurang lebih 18 tahun mereka terlibat dalam kegiatan perburuan burung kuning/Cenderawasih bersama pemuda-pemuda dari Maluku, Sangir Talaud, Tobelo dan Ternate yang dipimpin oleh Asang dan Badoun. Disamping bekerja sebagai tenaga porter dan/atau penunjuk jalan, mereka juga belajar bahasa Melayu ragam Maluku serta latihan menembak dengan menggunakan senjata api. Lama-kelamaan mereka mahir sehingga dapat tampil sebagai penembak-penembak burung Cenderawasih yang ulung. Hasil buruannya dijual kepada para pedagang yang dikoordinir oleh J.M.Dumas (seorang pedagang asal Cina/Hongaria ??) di Metudebi, yang pada saat itu menjadi pusat perdagangan buluh burung Cenderawasih dan hasil hutan lainnya.
   Mereka mulai memburu burung Cenderawasih dari Lembah Grime, Nawa, terus ke daerah Mamberamo, Arso, Waris serta daerah perbatasan dan sekitarnya, kemudian kembali ke pangkalannya yang pada saat itu dibuka di kampungnya Nenu Demotekay di Waitebu/Singgri, Genyem. Berbulan-bulan mereka di rimbah raya, tinggalkan anak isteri di kampung, demi memburu burung Cenderawasih dengan upah berupa garam, korek api, kain, cermin, pisau, dan bahan kontak lainnya. 
    Pada suatu saat, setelah mereka kembali dari perburuan, dan sebelum membawa hasil buruannya untuk dijual di Metudebi, mereka beristirahat di kampung Waitebu/Singgri. Pada saat itu, isteri Nenu memberikan sepucuk surat kepada para pemburu Maluku yang dititipkan oleh teman-teman mereka dari Demta. Ketika para pemburu membaca surat tersebut, maka menangislah mereka dengan terseduh-seduh, karena isi suratnya menceriterakan, bahwa isteri dan anak dari salah seorang teman mereka sudah meninggal dunia.
    Melihat peristiwa itu, maka Nenu dan teman-temannya dari Nimboran menjadi heran dan masing-masing bertanya, apa gerangan sehingga teman-teman mereka dari Maluku menangis terseduh-seduh? Tak ada yang marah atau pukul mereka, tapi mereka menangis terseduh-seduh. Nenu yang bisa berbahasa Melayu ragam Maluku pun mulai memberanikan diri dan bertanya kepada Asang dan Badoun, tentang alasan mereka menangis. Asang dan Badoun menceriterakan, bahwa isteri dan anak dari salah satu teman mereka telah meninggal dunia. Nenu pun bertanya lagi, siapa yang memberitahukan/ menyampaikan berita kematian itu ? Asang dan temannya menjawab, bahwa kami baca dalam surat ini, sambil menunjukan selembar kertas yang bercoretan huruf-huruf. Nenu dan teman-temannya tetap penasaran dan ingin tahu lebih lanjut, sehingga Nenu menjemput surat dari tangan temannya dan menempelkannya pada telinga dengan harapan bisa mendengar berita kematian itu. Namun surat yang adalah selembar kertas yang bercoretan huruf-huruf, tetap membisu di telinga Nenu.
    Memperhatikan gerakan Nenu yang demikian, maka sadarlah teman-teman mereka dari Maluku, bahwa Nenu dan teman-temannya dari Nimboran tidak mengerti tentang arti “surat”. Maka Asang dan Badoun mulai menjelaskan, bahwa ini adalah surat, yaitu selembar kertas yang diatasnya ditulis berita kematian dengan huruf oleh keluarga mereka di Maluku. Kemudian surat ini dikirim dengan menggunakan kapal laut kepada mereka melalui Demta. Untuk menulis surat ini, kami diajar oleh Guru Belanda. Kalau kalian (orang Nimboran) ingin tulis dan baca seperti kami, kalian harus pergi minta guru kepada Pendeta dan Pemerintah Belanda di Hollandia, supaya guru itu bisa mengajar kalian orang Nimboran sehingga orang Nimboran juga bisa tahu menulis dan membaca seperti kami.
    Setelah mengikuti penjelasan dari Asang dan temannya, maka pada saat itu Nenu dan teman-temannya dari Nimboran menjadi sadar, bahwa selama ini mereka dibohongi oleh para pemburu (orang Maluku) untuk mencari burung Cenderawasih. Berbulan-bulan mengembara di hutan rimba, naik-turun gunung, digigit nyamuk, kehujanan serta basah kuyup dan kedinginan, hanya untuk kepentingan para pedagang. Sebab itu, keesokan harinya, Nenu meniup triton petanda mengundang semua teman-temannya untuk datang menemuinya di kampung Waitebu/Singgri. Kepada teman-temannya yang terlibat dalam aktivitas perburuan burung Cenderawasih, termasuk Imsi-dekie dan Manggo-dewem-temang dari kampong Imeno, Nenu menjelaskan, bahwa kita dibohongi oleh teman-teman kita dari Maluku dengan diajak untuk memburu burung Cenderawasih. Sebaiknya kita hentikan kegiatan pemburuan burung Cenderawasih, dan kita harus segera ke Hollandia menemui Kepala Pemerintah dan Pendeta Belanda untuk meminta guru, supaya guru bisa mengajar anak-anak kita, sehingga anak-anak kita bisa tahu membaca dan menulis seperti orang-orang Maluku.
Setelah mengikuti penjelasan Nenu, maka mereka pun sepakat untuk menghentikan aktivitas perburuan burung kuning dan membuat rencana untuk mengunjungi pihak pemerintah dan zending di Hollandia. Kalau sebelumnya, mereka (orang-orang Grime dan Nawa) datang ke Hollandia untuk kepentingan perdagangan buluh burung Cenderawasih serta hasil hutan dan pengobatan bagi yang sakit dan/atau luka, tetapi sekarang kunjungan mereka ke Hollandia hanya untuk satu tujuan, yaitu meminta guru kepada zendeling Bijkerk dan J.A.Wasterval yang saat itu menjabat sebagai kontrolir pemerintah Belanda di Hollandia.
   Untuk itu, kira-kira pada hari Selasa tanggal 1 Oktober 1918, sekelompok pemuda Nimboran yang dipimpin oleh Imsi dan Manggo mulai berangkat dari kampung Imeno menuju pos Hollandia. Selama dua hari dalam perjalanan dan pada hari ke tiga (Kamis, 3 Oktober 1918) mereka tiba di Hollandia. Pada hari Jumat pagi tanggal 4 Oktober 1918, Imsi dan Manggo menemui Zendeling J.Bijkerk di rumahnya di Hollandia/Numbay. Bijkerk yang sudah biasa bergaul dengan mereka, tanpa ragu menerima kedua tokoh adat itu di rumahnya dan bertanya tentang maksud kedatangan mereka. 
   Kepada Bijkerk, Imsi dan Manggo menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan mereka, yaitu : bahwa mereka berdua adalah tokoh adat dari kampung Imeno di Nimboran, yang datang menemui Bijkerk untuk meminta guru, guna mendidik anak-anak mereka (Nimboran), seperti yang terjadi pada tetangga mereka di pesisir pantai utara, khususnya di Demta. Keduanya juga menyatakan untuk siap membantu tenaga guru dengan memberikan perlindungan serta menyediakan tempat dan membangun rumah bagi guru. 
   Setelah mengikuti permintaan dan pernyataan Imsi dan Manggo, maka Bijkerk merasa, bahwa ini adalah panggilan Tuhan untuk memberitakan Injil di daerah pedalaman Nimboran. Sebab itu, dengan senang hati beliau menerima semua permintaan dari kedua tokoh adat itu dan berjanji akan berusaha untuk memenuhinya. Pada siang harinya, Bijkerk langsung melaporkan hasil pertemuannya itu secara ringkas kepada pihak Badan Pengurus Zending di Oegstgeest Negeri Belanda, melalui suratnya pada hari Jumat tanggal 4 Oktober 1918, bahwa “sebagai penutup surat ini, perlu saya melaporkan, bahwa tadi pagi saya dikunjungi oleh kepala kampung Imeno, sebuah kampung di daerah Nimboran yang padat penduduknya. Sebelumnya, mereka kunjungi saya untuk pengobatan dan saya menolong mereka dengan memberikan obat, bahkan pada tahun lalu (tahun 1917) saya menolong seorang pria yang terputus tangannya. Tapi kunjungan mereka sekarang, adalah untuk meminta tenaga guru bagi daerah Nimboran. Ini hal yang sangat menggembirakan. Kemungkinan, mereka dipengaruhi oleh perkembangan yang ada di daerah pantai, khususnya di Demta. Ini merupakan pintu masuk bagi Injil ke daerah pedalaman Nimboran yang harus kita manfaatkan secara baik dengan mempersiapkan segala sesuatu untuk memberitakan Injil ke daerah pedalaman.“ 
   Melalui surat atau laporan di atas, dapat diketahui, bahwa Bijkerk sangat senang dengan kunjungan Imsi dan Manggo, terutama permintaan dan/atau pernyataan mereka untuk minta tenaga guru yang menurut Bijkerk, merupakan gerbang (pintu masuk) bagi Injil ke daerah pedalaman Nimboran yang harus dimanfaatkan dengan cepat dan tepat. Namun karena keterbatasan tenaga dan dana, sehingga enam tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1924, Bijkerk bersama kedua temannya, yaitu Schneider dan De Neef mulai masuk ke daerah Nimboran. Mereka berhasil membuka Pos PI di Nimboran dan kemudian mereka memindahkan Pusat Pekabaran Injil dari Numbay ke Genyem. Karena Pos PI di Numbay telah dihancurkan oleh banjir sungai Anafre pada tanggal 23 Maret 1923.
    Sekalipun dalam konferensi para Zendeling pada Maret 1925 di Miei, sempat mempersoalkan pemindahan Pusat Pekabaran Injil ke Genjem, namun Zendeling Bijkerk tetap mempertahankan Genjem sebagai Pusat Pekabaran Injil yang baru untuk Tanah Tabi. Akhirnya peserta konferensi dan juga pihak Pengurus Zending di Belanda menyetujui untuk memindahkan Pusat PI dari Numbay ke Genjem. Salah satu hal yang mendorong Bijkerk untuk mempertahankan Genjem, karena Bijkerk sudah menjalin hubungan persaudaraan yang baik dan akrab dengan masyarakat adat di lembah Grime Nawa melalui Imsi dan Manggo selaku perwakilan mereka. 
   Selain itu, laporan Bijkerk juga turut memperkuat ceritera yang disampaikan oleh Imsi, Manggo dan Nenu kepada keturunannya tentang kunjungan mereka ke Hollandia untuk minta guru kepada Zendeling Bijkerk dan Kontrolir Wasterval. Sekalipun tak ada catatan/laporan tentang kunjungan Nenu dan kawan-kawannya kepada Kontrolir J.A.Wasterval, seperti yang dicatat dan/atau di laporkan oleh zendeling Bijkerk.
   Demikianlah sekilas catatan sejarah tentang kunjungan orang-orang dari Lembah Grime Nawa, khususnya Imsi, Manggo dan Nenu dari Nimboran ke Hollandia/Numbay pada tahun 1918, untuk meminta guru kepada pihak pemerintah dan zending yang diceriterakan oleh keturunannya serta diperkuat oleh surat Bjikerk pada tanggal 4 Oktober 1918, seperti yang tertera di atas.
   Kiranya catatan ini juga bisa dijadikan sebagai bahan renungan bagi kita saat kita merayakan HUT PI ke 160 di Tanah Papua pada tanggal 5 Pebruari 2015, terutama kita merenungkan tentang bagaimana Kuasa Roh Allah menggerakan anak-anak-Nya, baik hamba-hamba-Nya dari Eropa, maupun leluhur kita untuk menghadirkan Kerajaan Allah di Tanah Papua pada umumnya, dan khususnya di kampung/daerah kita masing-masing. Tanpa kuat kuasa Roh Allah, mustahil Ottow, Geissler, Van Hasselt, dan kawan-kawanya bisa bertahan di Mansinam, hingga berita Injil bisa tersebar ke seluruh pelosok tanah Papua. Termasuk Imsi dan Manggo bisa tergerak untuk meminta guru kepada Zendeling Bijkerk di Numbay dan akhirnya pada tahun 1924, Bijkerk bersama kedua koleganya, yaitu Schneider dan De Neef bisa berhasil membuka Genjem sebagai Pusat Pekabaran Injil yang baru untuk tanah Tabi dan dari Genjem, Injil diberitakan terus hingga mencapai seluruh Tanah Tabi/MAMTA.
   Karena itu, di HUT PI yang berbahagia ini, kita patut memuji dan membesarkan nama Tuhan Allah semesta alam, bahwa“ Telah Kau cari akan daku dan kurindukan kasih-Mu. Ya, Tuhan Yesus brilah aku, di dalam kasih-Mu teduh. Terpilih dari dalam dunia, aku menjadi Tuhan punya.” Selamat Merayakan HUT Pekabaran Injil Yang Ke 160 Di Tanah Papua !!!



*) Penulis adalah Pemerhati Masyarakat Adat Di Tanah Papua
(pernah dimuat di harian Cenderawasih Pos)

Senin, 05 Januari 2015

Mewaspadai Bencana di Musim Penghujan

Oleh Edi Wibowo*)
BENCANA alam tidak dapat di hindari. Beragam bencana seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, tsunami, kebakaran hutan dll menjadi suatu hal yang sangat tidak di inginkan semua orang. Meski begitu kita tidak dapat meprediksikan kapan bencana itu sendiri akan datang. Terlebih lagi saat ini Indonesia sedang dalam musim penghujan dan tentunya ada sederet bencana alam yang dapat terjadi khususnya di Kota Jayapura.
   Masih erat di benak kita peristiwa banjir tahun lalu tanggal 22 Februari 2014 yang terjadi di Kota Jayapura, yang mana juga menimbulkan kerugian materi akibat banyaknya infrastruktur dan rumah warga yang rusak. Bahkan banjir ini juga menelan 11 korban jiwa dan tentunya melumpuhkan kota Jayapura untuk beberapa hari. BMKG mencatat pada saat banjir 22 Februari 2014 kemarin memang terjadi hujan yang terukur sebesar 238.3 mm, hujan seperti ini masuk dalam kategori sangat lebat. Curah hujan yang tinggi dapat menyebabkan berbagai bencana hidrometeorologis seperti banjir dan longsor. Banjir merupakan kejadian saat kelebihan air yang tidak tertampung oleh saluran drainase sehingga menimbulkan genangan yang merugikan. Curah hujan yang tinggi bukan satu-satunya penyebab banjir, faktor mausia (antropogenik) juga menjadi penyebab terjadinya banjir.  
   Tidak hanya banjir, tanah longsor pun memiliki dampak yang sama buruknya. Tanah longsor dapat terjadi akibat adanya perubahan-perubahan yang mengakibatkan gangguan kestabilan lereng di mana saat kekuatan dari material yang membentuk lereng dilampaui oleh tekanan lereng bagian bawah. Meningkatnya kandungan air yang di sebabkan oleh hujan lebat atau naiknya air tanah akan mengurangi daya tahan lereng. Runtuhnya tanah di lereng bukit tentunya menjadi momok menakutkan bagi warga yang bermukim di lereng bukit terutama di musim penghujan yang membuat potensi kemungkinan terjadinya tanah longsor menjadi lebih besar.
   Tentunya banjir dan tanah longsor ini sebenarnya tidak identik dengan kota Jayapura yang terkenal masih hijau dan masih banyak pepohonan yang ridang. Tapi mengapa akhir-akhir tahun ini saat musim penhujan datang Jayapura malah sering terkena bencana?   
   Jawabannya kembali ke pada diri masing-masing di mana kesadaran masyarakat Jayapura akan lingkungan masih sedikit. Tentunya sangat miris kota tercinta kita ini malah mendapat bencana karena ulah warganya sendiri. Salah satu faktor  penyebab terjadinya banjir dan tanah longsor dari unsur antropogenik adalah berkurangnya daerah catchment area (daerah resapan air hujan) akibat penebangan liar dan peralihan fungsi hutan menjadi lahan pembangunan rumah untuk tempat tinggal di wilayah hulu (Puncak gunung/perbukitan) seperti KPR (Kompleks Perumahan Rakyat). Hal ini berpengaruh terhadap bisa tidaknya air hujan mengalir dengan lancar. Secara alami, air hujan yang turun ke tanah akan mengalir ke tempat yang lebih rendah. Untuk daerah perkotaan pada umumnya air hujan yang turun akan di alirkan masuk ke dalam saluran-saluran pembuangan yang mengalir ke arah sungai. Namun acap kali saluran pembuangan tersebut tidak mampu menampung debit air yang mengalir sehingga terjadi banjir. Penyumbatan saluran pembuangan karena sampah juga menjadi salah satu penyebab banjir. 
   Kebiasaan buruk  masyarakat  Kota  Jayapura seperti membuang sampah ke aliran sungai ataupun selokan dan penebangan pohon di lereng bukit untuk membuka lahan perkebunan juga  menjadi salah satu factor utama terjadinya banjir dan juga tanah longsor. Kebiasaan buruk ini yang akhirnya justru malah merugikan masyarakat itu sendiri. 
   Melihat dari bencana banjir dan longsor yang terjadi di tahun-tahun belakangan ini, kita dapat menyimpulkan bahwa potensi bencana musim penghujan di Jayapura terjadi di awal-awal tahun di mana Jayapura memang sedang mengalami musim hujan. Musim hujan ini terjadi karena angin yang bertiup dari arah benua Asia membawa banyak uap air sehingga ketika sampai di Jayapura terjadilah hujan. Dan menurut BMKG puncak musim penghujan terjadi di bulan Januari – Februari.

Langkah Antisipatif
   Sudah saatnya masyarakat Kota Jayapura melakukan tindakan pencegahan dalam menghadapi bencana di musim penghujan. Karena mencegah bencana datang lebih mudah dari pada menaggulangi bencana yang telah terjadi. Sebelum bencana datang, alangkah baiknya jika masyarakat bertindak antisipatif. Beberapa langkah sederhana antara lain, memperbaiki saluran pembuangan, membersihkan selokan dan membuat biopori di pekarangan rumah.
   Melihat pemetaan wilayah Kota Jayapura yang rawan akan potensi banjir dan tanah longsor sebelum mendirikan pemukiman bisa menjadi salah satu langkah bijak. Karena letak geografis Kota Jayapura sendiri yang bermacam-macam dari perbukitan hingga dataran rendah.
   Masyarakat juga bisa memantau peringatan dini tentang bencana alam di situs BMKG.go.id yang bisa di akses 24 jam. Tentunya dampak bencana tidak akan terlalu besar jika masyarakat mendapat peringatan dini akan datangnya bencana alam.
   Sudah selayaknya Pemerintah Daerah Jayapura bekerja sama dengan instansi terkait melakukan berbagai program untuk mencegah bencana datang. Antara lain pengijauan lahan gundul, pengerukkan kali yang mengalami pendangkalan dan menegakkan Peraturan Daerah terkait dengan larangan penebangan hutan wilayah resapan air hujan dan pembangunan rumah atau bangunan diwilayah tebing dan lereng gunung/perbukitan yang curam. Jika pemerintah setempat hanya berupaya melakukan penanggulangan bencana tanpa melakukan usaha pencegahan seperti pelarangan kegiatan alih fungsi lahan hutan resapan air hujan, maka jangan heran apabila musim penghujan datang, bencana akan datang lagi. 
   Tentunya pemerintah tidak dapat bekerja sendiri harus ada kerja sama dengan masyarakat untuk membenahi kota Jayapura agar tidak lagi terjadi bencana di kemudian hari. Hal kecil yang dapat di lakukan masyarkat seperti kesadaran dari diri sendiri untuk membuang sampah pada tempatnya yang telah disediakan baik dari swadaya masyarakat maupun yang telah di siapkan oleh pemerintah Kota  Jayapura, demi keselamatan dan kenyamanan kita bersama.
    Jangan pernah menyalahkan alam tetapi bersahabatlah dengan alam. Bencana yang telah terjadi di jadikan pelajaran utuk membenahi yang kurang agar ke depannya bisa menjadi semakin baik. Alam menegur dengan memberikan bencan agar kita bisa lebih dapat menghargai dan menjaga alam.#

_____________
 *penulis adalah Pengamat di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)

(Artikel ini pernah dimuat di Harian Cenderawasih Pos - Januari 2015) 

Minggu, 04 Januari 2015

Pelajaran dari Momentum Bisnis di Tahun Baru

Oleh: Dr. Hariman Dahrif, S.Pi, MTP *)

TAHUN 2015 baru saja kita tinggalkan dengan gempita euforia  yang  membahana.  Di tingkat masyarakat nampak riuhnya suara trompet, deringnya bunyi petasan, lengkingan musik dengan penyanyinya bagian yang tak terpisahkan dari setiap perayaan tahun baru.
  Sebaliknya ditingkat elitis perilaku perenungan yang dibalut dengan nuansa seremenial juga tidak pernah absen.  Menumpuk rakyatnya untuk bersama menikmati pesta, berkelana sambil mencitrakan diri dekat dengan rakyat atau menetap sambil bercengkrama dengan kaum kerabat?. Pokoknya pesan-pesan perayaan yang  bersifat konsumtif adalah bagaian yang menjustifikasi dalam setiap pergantian tahun.  Pertanyaan kita sebenarnya apa manfaat dari perayaan yang dipenuhi dengan kemewahan itu?. 
 Segelintir orang pasti menjawab itu pertanyaan konyol, tidak kau saksikan berapa banyak kaum kaki lima penyanggah ekonomi di negara ini mengambil peluang?. Lihatlah pedagang trompet, petasan, penjual bakso, makanan ringan. Itu baru ditingkat penjual (tersier).  Bagaimana ditingkat perantara (distribusi), atau bagaimana ditingkat produsen?.
 Lihat saja untuk pembuatan trompet saja batasan etika  bisa dilampaui hanya demi rupiah sesaat, (kasus: trompet dengan kertas berlabel huruf kitab suci).  Pendek kata begitu menggiurkannya bisnis yang sifatnya sesat ini!. Fenomena ini tidak terjadi jika tidak menjanjikan keuntungan yang fantastik. Bahkan salah seorang penjual trompet di Abe yang sempat penulis wawancarai mengatakan “bila penjualan baik, keuntungan memang tidak seberapa Pak?, paling-paling bisa beli motor baru”. Sebuah ungkapan yang verbalistik nan sentimentil tapi faktual. Pendeknya kalau bisa selamanya tahun barulah, supaya kami bisa memanfatkan peluang ini selamanya!.
  Ungkapan inilah yang harus digaris bawahi “bagaimana mempertahankan peluang tersebut?”.  Barangkali sesuatu yang utopia, bukankah tahun baru itu sekali saja setiap tahun.  Mungkin momentumnya bisa saja terbatas tetapi spirit (nuansa) bisnis dibalik momentum itulah yang mestinya ditelisik. 
 Hal yang menjadi pelajaran dari momentum bisnis di tahun baru: (1) dinamisnya perekonomian ditingkat lapisan bawah. Meskipun dinamis tetapi bila ditelisik kedalam sesungguhnya penuh dengan pertarungan.  Banyaknya keluhan akan pungli yang diperankan oknum-oknum tertentu dengan dalih apa saja, menjadi preseden buruk terciptanya distorsi ekenomi dipasar lokal.  Hal ini sebenarnya menjadi perhatian serius dari yang berwenang untuk menciptakan iklim bisnis yang sehat dan berkelanjutan ke depan. 
 (2) sifat konsumerisme masyarakat lapisan menengah dan atas.  Momentum ini baik, bila kita mendasarkan ekonomi pada skala konsumtif.  Tetapi sifatnya yang temporal menjadi tidak memiliki pengaruh yang berarti.  Kondisi ini berakibat tingkat inflasi di akhir tahun juga meningkat.  Akibatnya seberapa pun penghasilan masyarakat yang tumbuh dari bisnis di akhir tahun, sebagian akan terlahap oleh tingginya inflasi.  Kita mengharapkan pertumbuhan ekonomi ditopang oleh sektor produksi sehingga memiliki daya tahan dari segala keadaan.    
 Hal-hal dibalik fenomena tersebut hendaknya menjadi catatan bila pemerintah berketetapan hati mengelola peluang ekonomi yang dilahirkan dalam kondisi sesaat (temporal).  Munkin ada beberapa hal yang perlu dilakukan menurut penulis, (1)  Fenomana bisnis awal tahun menjadi pembelajaran berharga bagi pemerintah untuk lebih atraktif menelurkan kebijakan. Contoh, perlunya regulasi perlindungan alur distribusi barang. 
 Regulasi ini penting sebab fenomena bisini diawal tahun terkadang memicu munculnya interpreurship muda untuk berbisinis, sehingga keberpihakan pemerintah sangat diperlukan. (2) menjaga atau menawarkan momentum konsumtif dari lapisan masyarakat menengah dan atas untuk berinvestasi di skala produksi sehingga terjadi pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.  Peran pemerintah disini menawarakan enclove-enclove kota yang memiliki daya tarik untuk berbisnis, (3) mewadahi dan memfasilitasi kedua lapisan pelaku  melalui wadah-wadah yang tetap. Seperti asoasiasi-asosiasi untuk memudahkan pembinaan selanjutnya.
 Pada akhirnya mesti secara bisnis berbagai peluang di akhir tahun banyak yang dimanfaatkan oleh masyarakat, tetapi perlu diingat bahwa peluang bisnis ini hanya dinikmati masyarakat kota (urban) sedangkan mereka di pedesaan (rural) hampir pasti tidak mendapatkan manfaat, akibatnya kesenjangan Kota dan Desa tetap langgeng. Tidak hanya itu hal yang tidak bisa dipungkiri dari  fenomenan bisnis di akhir tahun terkadang melahirkan perilaku hedonisme dikalangan remaja yang memicu berbagai kriminalitas.  Inilah tugas pemerintah berikutnya untuk mengantisipasinya ke depan. #
___________
*) Pemerhati Sosial Ekonomi serta isu-isu kebangsaan di Papua, tinggal di Aryoko-Jayapura; harimandarif@yahoo.co.id (Dosen di Pengajar di UNIYAP)
(artikel ini pernah dimuat di Harian Cenderawasih Pos - Januari 2015)


Kamis, 01 Januari 2015

Pendidikan Sebagai Pintu Masuk pembangunan Kemanusiaan di Era Globalisasi

Oleh Silvester Bobii  *

 DI INDONESIA dalam membangun dunia pendidikan yang ideal zaman sekarang, tentunya membutuhkan pendidikan yang maksimal dari segi pengajar, kesejahteraan guru, sarana dan prasarana yang memadai agar pendidikan dapat memanusiakan manusia dan tidak terjadi keanekaragaman konflik, kemiskinan, kekerasan, korupsi di mana-mana. Sebab hanya melalui pendidikanlah akan membangun kemanusiaan di era globalisasi dengan memperhatikan hal-hal yang mendukung pendidikan itu sendiri. Supaya manusia mengalami dan merasakan kesejahteraan, kedamaian dan kebahagian dari pendidikan.  
 Zaman sekarang pendidikan sangat penting karena pendidikan itu awal atau pintu masuk membangun manusia dari berbagai segi seperti akal budi, kepribadian dan lainnya. Pendidikan merupakan suatu proses dan pelayanan atau perbuatan menjadikan  manusia sebagai manusia sesuai eksistensi dirinya. 
 Pendidikan juga merupakan suatu kegiatan menerima, memberikan dan menanamkan kebiasaan setempat supaya generasi bangsa meneruskannya sebagai suatu proses pembangunan melalui bakat dan minat yang diembankan kepadanya secara efesien. Keefesienan pendidikan akan nyata jika dari pemerintahan itu sendiri berpendidikan dan memberikan pendidikan. 
 Maksudnya bahwa dalam suatu negara jangan duduk diam tetapi harus memberikan pendidikan dan pengajaran bagi anak sambil kebebasan seorang anak dalam mengikuti pendidikan disesuaikan dengan usia didik, kemampuan, demi membangun nilai kemanusiaan. Sehingga pendidikan itu merupakan pintu masuk pembangunan manusia secara universal melalui suatu proses, melalui pelayanan, melalui komunikasi dari manusia ke manusia dan secara informal maupun non formal yang disesuaikan dengan perkembangan manusia itu sendiri. 
 Supaya manusia itu dapat menemukan dirinya sebagai manusia bahwa manusia yang memiliki intelektual/akal budi, manusia yang memiliki kerohanian dan manusia yang memiliki budaya serta memiliki kehendak bebas. Kebebasan untuk bertindak secara professional dalam berbagai bidang kehidupan. 
 Maka pengertian pendidikan secara khusus yaitu suatu proses interaksi belajar mengajar dalam bentuk formal yang dikenal sebagai pengajaran. Sehingga dalam pendidikan itu saling mendukung, melengkapi, melayani antara keberadaan pengajar, siswa-siswi dan dari segi sarana dan prasarana pun memadai. 
  Pendidikan yang memadai akan memanusiakan manusia sejak kecil yang dihadapkan pada tantangan dunia modern supaya manusia dapat mecintai yang baik dan mejauhi yang melahirkan berbagai konflik, korupsi, kekerasan, pemerkosaan dan pembunuhan yang selalu meningkat. Meningkatnya berbagai masalah di mana-mana karena kemapaman pendidikan itu belum menyentuh atau belum menggigit sampai pada individu sesuai kepribadian sejak dini (usia perkembangan), kebudayaan, pengajar/guru, sarana dan prasarana juga tidak memadai. 
 Padahal hal-hal inilah yang mendukung perkembangan pendidikan seperti pengajar/guru dan sarana-prasarana. Pengajar/guru dalam melaksanakan peran dan tugas yang diemban oleh guru tersebut, guru harus nyatakan dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya sebagai pendidik di sekolah. Misalnya guru dalam proses pembelajaran; Seorang guru adalah pendidik professional mempunyai tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik. Dengan demikian peran guru sangat dominan dalam membentuk peserta didik menjadi manusia yang berkualitas. 
  Sedangkan sarana dan prasarana merupakan alat penunjang keberhasilan suatu proses upaya yang dilakukan di dalam pelayanan publik, karena apabila kedua hal ini tidak tersedia maka semua kegiatan yang dilakukan tidak akan dapat mencapai hasil yang diharapkan sesuai dengan rencana. 
 Secara etimologisnya prasarana berarti alat tidak langsung untuk mencapai tujuan dalam pendidikan seperti lokasi, bangunan sekolah, lapangan olahraga, uang dll. Sedangkan sarana berarti alat langsung untuk mencapai tujuan pendidikan seperti ruang, buku, perpustakaan, laboratorium dll. Semua sarana dan prasarana ini harus dilengkap  di sekolah. Sekolah yang merupakan lembaga sosial yang keberadaannya merupakan bagian dari sistem sosial bangsa yang bertujuan untuk mencetak manusia bermoral, bertanggung jawab, beriman, sehat jasmani dan rohani, memiliki pengetahuan dan keterampilan, berkepribadian yang mantap dan mandiri melalui sarana prasarana dalam kegiatan pembelajaran, maka peserta didik, guru dan sekolah akan terkait secara langsung. 
 Peserta didik akan lebih terbantu dengan dukungan sarana prasarana pembelajaran. Tidak semua peserta didik mempunyai tingkat kecerdasan yang bagus sehingga penggunaan sarana prasarana pembelajaran akan membantu peserta didik, khususnya yang memiliki kelemahan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Bagi guru akan terbantu dengan dukungan fasilitas sarana prasarana. Kegiatan pembelajaran juga akan lebih variatif, menarik dan bermakna di dunia pendidikan. 
 Dalam dunia pendidikan yang menjadi faktor utama berkurangnya pendidikan yaitu kurangnya tenaga guru karena jangkauan jaringan komunikasi, khususnya bagi para guru yang cenderung turun ke kota dan kembali dalam jangka waktu yang hampir lebih dari tiga bulan hanya untuk berkomunikasi dengan keluarga mereka dan meninggalkan pengabdiannya sebagai seorang guru. Faktor yang lain juga karena alasan stress dan sulit beradaptasi dengan lingkungan tempat para guru bertugas, biasanya para guru sakit dan kurangnya tenaga medis serta fasilitas medis di pedalaman yang membuat para guru harus di rujuk ke kota untuk menjalani pengobatan kesehatannya. 
 Setelah sembuh dari penyakitnya, karena keenakan di kota sehingga membuat mereka menjadi ingin berlama-lama di kota tanpa memikirkan tugas dan tanggung jawab mereka di tempat tugas mereka. Selain itu pula karena banyak tunjangan para guru yang menunggak selama beberapa bulan, sehingga membuat mereka, merasa bahwa  mereka menjalankan tanggung jawab mereka tanpa menerima hak mengajar mereka, jadi mereka turun ke kota selama berbulan-bulan untuk menunggu menerima hak mengajar mereka.
  Dan juga karena adanya tenaga para guru yang dimasukan dalam jabatan struktural masyarakat seperti  wakil kepala kampung atau seksi-seksi tertentu dalam kemasyarakatan. Sehingga jika ada rapat-rapat tertentu di walikota misalnya para guru meliburkan murid-muridnya dan mengikuti urusan politik bersama kepala kampung di kota. Dan juga kurang adanya perhatian pemerintah akan dunia pendidikan. Pemerintah lebih mementingkan dan mengutamakan kepentingan pribadi, Otsus dan urusan politik lainnya. Sehingga tenaga pengajar, kesejahteraan guru, sarana dan prasarana menjadi kurang diperhatikan. Hal ini membuat perkembangan pendidikan yang seharus diprioritaskan kepada manusia tetapi menjadikan manusia statis.
 Dengan demikian yang menjadi pintu masuk pendidikan di Indonesia agar dapat berjalan dengan baik dan benar apabila pertama, pemerintah memperhatikan pendidikan secara menyeluruh di pelosok Indonesia baik, tenaga guru, kesejahteraannya maupun sarana dan prasarana pendidikan dan juga pemerintah harus membuat ketegasan-ketegasan dalam bentuk peraturan yang harus ditaati oleh setiap guru. Kedua, membangun manusia dalam perkembangan manusia itu sendiri melalui media-media maupun pengajaran-pengajarannya. Sehingga kita mengetahuinya sebagai manusia yang bermartabat di zaman globalisasi. 
 Ketiga, pada zaman ini sangat penting membangun dan memperjuangkan nilai kebudayaan setempat melalui pendidikan. Karena ketika kita melihat dengan mata kita bahwa di Indonesia dari segi budayanya sangat kaya. Namun semuanya sudah hilang eksistensinya di depan mata kita. Manusia Indonesia menjadi miskin atas kekayaannya. Keempat, pendidikan sebagai pintu masuk mengasa kemampuan yang ada pada setiap manusia. Sebab manusia Indonesia diperbodohi atas kemampuan yang sangat luar biasa. 
 Hal ini karena akibat kecelakaan pendidikan yang tidak memanusiakan manusia Indonesia pada umumnya. Kelima, harus melengkapi sarana dan prasarana pendidikan itu sendiri. Pendidikan dari segi sarana yang tidak memadai membuat profesionalitas pengajar yang tidak baik dari berbagai segi pendidikan. Misalnya seorang pengajar setiap bulan dan setiap tahun ke kota dengan berbagai alasan tertentu supaya tidak mau mengajar. 
 Pada hal kita tahu bahwa hanya dengan pendidikan inilah akan menciptakan manusia-manusia berakal budi dan bermartabat sebagai generasi-generasi bangsa sekaligus tulang punggung bangsa Indonesia di era globalisasi. Maka di era globalisasi ini kita jangan berpikir kepentingan pribadi tetapi kita harus berpikir transparan, dinamis, universala terhadap pendidikan yang merupakan pintu masuknya pembangunan nilai-nilai kemanusiaan agar tidak lagi terjadi korupsi di mana-mana, konflik, kekerasan, penindasan, pembodohan, pemerkosaan dan pembunuhan di bangsa Indonesia ini.
  
* Penulis Mahasiswa Pada Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi STFT “FAJAR        TIMUR”    Abepura - Papua