Tampilkan postingan dengan label Olah Raga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Olah Raga. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Agustus 2017

Inpres PON Berhasil , Manakala Tiga Pilar Buka Diri dan Kooperatif

                                                           Oleh : M. Usman Fakaubun*
LAMPU hijau  penyelenggaraan PON XX Papua telah diberikan Pemerintah Pusat lewat Presiden Jokowi dalam Ratas (Rapat Terbatas) bersama Gubernur Lukas Enembe dan sejumlah staf terkait pada Rabu, 19 Juli 2017 lalu di Jakarta. Sejumlah Menteri telah diperintahkan Jokowi untuk sukseskan PON Papua. Seperti Menteri PUPR sebagaimana diungkapkan Gubernur Lukas akan menyiapkan infrastruktur penunjang bukan venue yang bila dikonfersi dari nilai fisik ke  rupiah mencapai Rp. 1,6 T yang sudah barang tentu penyebaran proyeknya di Prov Papua meliputi  lima cluster penyelenggara PON seperti di Merauke, Wamena, Biak, Jayapura dan Timika.                          
   Kepada Presiden Joko Widodo, Gubernur Lukas telah melaporkan, dana yang telah dikeluarkan dari APBD Papua sebesar Rp. 2 trilyun. Cuma tidak dijelaskan secara rinci  sasaran penggunaannya. Berapa untuk pembangunan Stadion Utama Kampung Harapan, berapa untuk rehabilitasi/pembangunan baru venue di Kabupaten, serta berapa yang terpakai saat berjuang menjadi tuan rumah sejak 2013 lalu. Termasuk juga yang digunakan tiga pilar penyangga, Koni, PB PON dan Disorda. Besaran Alokasi Anggaran itu harus transparan, karena harus diakui bahwa transparansi Anggaran buat publik itu sudah ada Undang-Undang yang mengaturnya.                                                  Di samping itu, Pengawasan masyarakat itu sangat perlu di samping pengawasan dari DPRP/DPRD Kabupaten serta pengawasan dari instansi resmi yang ada, sehingga bila ada deviasi segera dibenahi oleh instansi tehnis yang bersangkutan. Jangan menunggu hingga ada temuan dari Instansi Pengawas/Pemeriksa yang pada gilirannya menyusahkan pihak-pihak terkait, terutama Pemimpin di negeri ini. Hal ini yang tidak boleh terjadi.                                                                                                  Dinas Olahraga dan Pemuda (Disorda) mendapat porsi tanggung jawab dari Gubernur Papua untuk proyek infrastruktur venue pertandingan sedangkan proyek penunjang yang di luar venue pertandingan menjadi tanggung jawab Kementerian PUPR yang nilainya mencapai Rp. 1,6 T seperti yang sudah diarahkan Presiden Jokowi dalam Ratas, Rabu siang. Sehingga kedua instansi ini perlu berkoordinasi agar tidak terjadi tumpang-tindih di lapangan.                                                                      Fungsi koordinasi antara tiga pilar penyangga PON tersebut tampaknya tidak berjalan baik. Akibatnya terjadi ketimpangan dalam pelaksanaan di lapangan. Padahal, yang namanya kerjasama itu sangat perlu. Tiga pilar itu harus berjalan  secara simultan bersama-sama menjalankan tugas dan fungsingnya. Proyek fisik jalan, atlet/pemain yang akan berlaga programnya juga jalan di samping persiapan perangkat pelaksana pertandingan dan administrasi/korespondensi dengan Koni Pusat/Provinsi serta PB Induk Organisasi juga jalan kan enak. Jadi benar-benar suasana pesta PON itu sudah terasa. Gaungnya mulai terdengar ke mana-mana. Jangan sampai ada yang berdalih bahwa PON 2020 itu masih jauh, dua atau tiga tahun lagi. Jadi biar santai saja dululah. Alur berpikir seperti itu mudah-mudahan saja tidak ada.                                                                                                               Ada sementara pihak yang mengatakan, semua kendala ini bisa kembali berjalan normal manakala penunggu dapur organisasi Koni itu stasioner di tempat. Mengendalikan semua pekerjaan dari Kantor Koni Papua itu jauh lebih efektif. Karena lead sektornya itu ada di Koni. Instansi lain itu hanya pendukung saja. Ini masalah yang mungkin menjadi kendala selama ini sehingga perlu dipertegas bahwa pasal 36 Anggaran Dasar Koni telah menjelaskan itu bahwa ini olahraga prestasi sehingga kewenangannya untuk menyelenggarakan Olahraga Prestasi itu adalah Koni yang boleh saja disupport oleh pihak lain.                                                                                    Kalau proyek infrastruktur sudah aman, maka yang menjadi kendala sekarang adalah tugas Koni Papua mempersiapkan atlet/pemain yang akan tampil di arena pertandingan nanti. Sebab apabila terlambat dalam rekrutmen atlet/pemain, maka jangan berharap banyak. Padahal di awal, Papua sudah pasang target merebut empat terbaik yaitu prestasi terbaik, penyelenggara terbaik, meningkatkan ekonomi rakyat  serta meningkatkan rasa kebersamaan dalam filosofi Bhineka Tunggal Ika.                  
    Sampai hari ini  (Jumat,21 Juli) saat tulisan ini diturunkan, kantor Koni Papua nyaris tidak ada aktivitas yang berarti. Ini kondisi yang terjadi seperti tidak ada tanda-tanda mau ada hajat besar. Kondisi ini kalau tidak disampaikan atau didiamkan adalah salah besar. Mestinya sudah saatnya demam PON  digelorakan dari sekarang. Bisik punya bisik  semua kegiatan stagnan menunggu cairnya ‘vitamin’ pendukung agar menambah stamina pengurusnya yang sudah bekerja dengan hati. Pengurusnya sudah punya program  untuk mau mulai bergerak sejak awal tahun ini tapi belum turun ‘vitaminnya’. Padahal programnya sangat bagus seperti sudah punya program untuk mendulang atlet berbakat lewat PORProv/PORkab yang ancar-ancarnya mulai Januari s/d Juni 2017 ini dilanjutkan dengan PUSLATProv tapi semua terbentur masalah vitamin yang belum turun. Di samping itu, rencana untuk mengadakan pertemuan bersama Konida tingkat dua bersama semua induk olahraga membahas masalah PON XX di mana Panitia Pelaksana dan Pengarahnya telah siap, tapi terkendala lagi.
   Setelah ada warning dari Istana dan Senayan (Pintu Satu), maka rasanya sudah saatnya semua pihak membuka diri. Perlu diadakan evaluasi bersama tiga pilar, Koni, PB PON dan Disorda. Masing-masing bidang sudah jelas tupoksi. Dan diharapkan kantor Koni sebagai leading sektor Olahraga di tanah air mulai  bangkit menggelorakan semangat menuju PON XX Papua. Karena PON ini adalah gawenya Koni yang harus tampil di depan dan pegang kendali.                                                                  Jujur, malu  apabila PON jadi tapi prestasi kita terpuruk hanya karena masalah vitamin dan kebersamaan yang tidak terjaga. Komisi V DPRP yang membidangi pendidikan dan olahraga, beberapa bulan lewat melakukan RDP (Rapat Dengar Pendapat) yang harus dihadiri Tiga Pilar, tapi hanya Koni Papua yang hadir. Dua komponen lainnya tidak hadir lantaran berdalih materi yang dibahas kurang dikuasai. Beginilah kondisi riil yang terjadi.  Akhir dari tulisan ini mudah-mudahan  bisa dilakukan pertemuan bersama, duduk bersama untuk membuat cair semua persoalan yang selama ini ‘beku’. Persoalan olahraga Papua ini ibarat bongkahan gunung es. Bongkahan terbesar ada di dasar laut, sementara bagian kecilnya saja yang nongol ke permukaan. Akhirnya, lebih baik kita ‘berkelahi’ sekarang daripada kita kehilangan muka di kemudian hari. #
________
*penulis, ketua Dewan Kehormatan PWI Papua
( Tulisan ini Pernah dimuat di harian Cenderawasih Pos)

Jumat, 04 September 2015

Memasyarakatkan Olahraga dan Mengolahragakan Masyarakat Papua

Penulis : M.F.P.Putra*
PADA tanggal 9 September 1983, tepatnya di Kota Solo, telah dicanangkan gerakan Nasional tentang panji olahraga yang berbunyi seperti judul di atas. Tidak berselang lama, yakni tahun 1985 dikeluarkan Keputusan Presiden (Kepres) nomor 67 tentang Hari Olahraga Nasional (HAORNAS) yang diperingati secara Nasional oleh masyarakat setiap tanggal 9 September.
Untuk memperingati Haornas kali ini, Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) UNCEN, akan menyelengarakan rangkaian kegiatan mulai dari bulan September sampai dengan Oktober. Misalnya, senam bersama (Indonesia sehat, Wayase, Yospan, Zumba Dance), donor darah, lari 5 Km, bola voli antar SLTA se-Kota dan Kabupaten Jayapura, serta seminar olahraga Nasional. 
Penulis melihat bahwa rangkaian kegiatan di atas merupakan salah satu wujud untuk memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat di Papua. Munculnya perilaku gerak (olahraga) hakikatnya merupakan interaksi antara individu dan lingkungan (person-world system). Seseorang yang memiliki keinginan untuk berolahraga, sangat boleh jadi tidak akan mewujudkan perilaku berolahraga jika lingkungan di sekitarnya tidak mendukungnya. Di sinilah pentingnya penciptaan lingkungan yang mendukung seseorang atau sekelompok orang untuk melakukan olahraga. 
Penulis menilai bahwa Prof. Dr. Sutoro (Dekan FIK Uncen) dan Dr. Tri Setyo Guntoro (Pakar olahraga FIK Uncen) memandang bahwa penciptaan lingkungan yang memungkinkan setiap orang melakukan aktivitas olahraga pada dasarnya merupakan bentuk kewajiban, sehingga FIK Uncen berupaya aktif untuk memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat. Nah, rangkaian kegiatan di atas diyakini sebagai media yang efektif untuk menggalakkan panji olahraga Nasional. Di samping itu, kegiatan di atas juga mempunyai misi untuk meningkatkan kebugaran dan kesehatan masyarakat Papua. 
Pertanyaannya, bagaimana tingkat kebugaran masyarakat di Papua? Hasil studi tahun 2004 yang dilakukan oleh Komisi Nasional Pendidikan Jasmani dan Olahraga (Komnas Penjasor) menemukan bahwa tingkat kebugaran masyarakat Papua masih jauh dari harapan. Padahal, kebugaran menjadi faktor yang penting dalam rangka meningkatkan kualitas serta produktifitas masyarakat. Coba bayangkan! Apa jadinya bila suatu masyarakat kondisi tubuhnya cepat lelah dan mudah mengantuk? Tentu mereka tidak akan bisa produktif dalam bekerja dan berkarya. Bila itu yang terjadi maka alih-alih masyarakat menjadi maju, yang ada justru mereka akan menjadi beban Negara dan menghambat kemajuan.
Untuk mewujudkan masyarakat yang bugar dan mengikuti pola hidup sehat, tidak cukup hanya mendasarkan pada kemauan orang-perorang, tetapi perlu dibudayakan. Dalam arti perlu diciptakan kondisi sedemikian rupa (rekayasa sosial) yang memungkinkan bagi setiap orang untuk melakukan kegiatan olahraga.
Tantangan ke depan
Para akademisi di FIK Uncen percaya bahwa tantangan hidup yang bakal dihadapi ke depan oleh masyarakat akan semakin menantang. Sebagai contoh, digulirkannya Asean Free Trade Area (AFTA) akan membuat barang-barang hilir mudik dengan bebas se-Asean. Artinya, persaingan dalam perdagangan menjadi ketat karena kita akan diserbu barang-barang dari luar negeri yang mungkin harganya lebih rendah namun kualitasnya lebih tinggi, sehingga daya saing barang dalam negeri menjadi lemah. 
  Apakah hanya itu? Tentu saja tidak. Persaingan antar manusianya juga akan dipertaruhkan. Misalnya, tenaga kerja dari luar Negeri akan masuk ke Indonesia dan bersaing dengan tenaga kerja lokal. Meskipun pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk memperketat masuknya barang dan tenaga kerja luar, tetap saja hal ini menjadi kegalauan di tengah masyarakat.
 Berdiam diri dan pasrah tentu tidak menyelesaikan masalah tapi justru akan menjadi sumber masalah baru. Itu artinya kita harus sadar bahwa di era sekarang ini, kualitas manusia baik jasmani maupun rohani akan menjadi indikator kuat tentang daya saing bangsa yang selanjutnya akan menentukan kemajuan serta tingkat kesejahteraan masyarakat. Lihat pengalaman Negara-negara yang telah mengalami kemajuan, umumnya tidak disebabkan oleh kekayaan alam yang dimiliki, melainkan kualitas manusianya. Jepang misalnya, meskipun memiliki sumber daya alam yang terbatas dan diperparah dengan kondsi kehancuran berat akibat perang dunia ke II, namun Jepang mampu bangkit menjadi Negara industri terkemuka di dunia. Tepat kiranya argumen yang mengatakan bahwa keberhasilan suatu Negara bersaing dengan Negara lain akan sangat ditentukan oleh sejauhmana Negara yang bersangkutan mempersiapkan dan meningkatkan kualitas manusianya.   
Peran olahraga
 Memang benar bahwa olahraga tidak mampu memberikan garansi bahwa seseorang akan mapan dalam hal ekonomi, namun melalui olahraga resiko terkena penyakit dapat diminimalisir yang selanjutnya hal ini akan menghemat secara ekonomis. Pada hari kesehatan dunia, 7 April 2002, Direktur Jenderal WHO Gro Harlem Brundtland menyatakan: “Physical activity (sport) is a fun and easy way to improve our health and well-being. It does not have to cost anything and everyone, whether young or old, can participate. It is an effective way to prevent cardiovascular disease, diabetes, obesity and two million deaths per years resulting from conditions related to physical inactivity”.
Martin (2010), ilmuan dari University of Western Australia melakukan kajian tentang pengaruh aktivitas fisik (olahraga) terhadap capaian prestasi akademik. Premis dasar yang ia miliki adalah “olahraga yang dilakukan secara tepat akan merangsang perkembangan intelegensi anak, yang selanjutnya akan meningkatkan prestasi akademik anak di sekolah”. Dari uraian di atas jelas akan mengugurkan pendapat yang mengatakan bahwa olahraga adalah aktivitas yang menghambur-hamburkan waktu dan mengganggu perkembangan intelektual seseorang. 
Bertalian dengan produktivitas kerja dan daya saing maka olahraga memiliki posisi yang strategis. Tidak dapat dipungkiri bahwa rutin berolahraga maka akan meningkatkan kebugaran serta kesehatan pelakukanya. Bagi para pekerja di perkantoran, pabrik, dan tempat lainnya kebugaran dan kesehatan merupakan prakondisi mewujudkan kinerja yang optimal. Sebab, dengan kondisi tubuh yang sehat, mereka memiliki daya tahan terhadap stress, berbagai penyakit degenaratif dapat dicegah, dan kegiatan sehari-hari dapat dijalani dengan penuh gairah (Crum, 2004). Dengan demikian produktivitas akan semakin meningkat. 
 Selanjutnya bila mereka memasuki usia lanjut dan mereka tetap melakukan olahraga yang dapat menjaga kesehatan serta kebugarannya, maka mereka akan lebih siap menghadapi usia tua (Kim, 2004). Karena mereka lebih mandiri, kuat, dan ceria sehingga proses penuaan dapat diperlambat. Dengan demikian harapan hidup (life expectancy) mereka semakin meningkat (Anderson, et.al., 2000).
 Kiranya, mungkin kita perlu bersepakat bahwa manusia yang bugar dan sehat merupakan prasyarat pembangunan. Mustahil menggerakkan roda pembangunan yang mengarah pada peningkatan produktivitas tanpa ada kesiapan sumber daya manusia yang bugar dan sehat secara fisik serta mental. Karena itu, upaya mewujudkan menusia yang bugar dan sehat menjadi urgen. Dengan begitu, menggalakkan panji olahraga Nasional dipandang relevan dengan konteks kekinian dan perlu menjadi agenda rutin bersama ke depannya.#

___________
*Penulis adalah Dosen FIK UNCEN
  Email: putra.uncen@gmail.com

(Tulisan ini Pernah dimuat di Harian Cenderawasih Pos Septembr 2015)